The Story of Melancholic

Chapter 1

Akhirnya aku menumbangkan rasa takut seorang melankolis. Membuang rasa khawatir dan keluar dari zona rutinitas yang menyita waktu. Perkelahian panjang dengan fikiran sendiri pun berhasil aku menangkan. Hari ini begitu cerah, aku mulai merangkai kata. Bukan untuk melamar seorang gadis, bukan juga untuk mengikuti kompetisi puisi, namun ini untuk sebuah perubahan.

Aku membuka komputer untuk mencari beberapa referensi. Rasanya begitu berbeda, sticky note yang biasanya tersusun rapi di desktop komputerku, tiba-tiba berantakan sesaat aku menyalakannya. Sebuah sticky note merah muda menyelip di antara toolbar sebelah kanan bawah. Aku menggesernya, terlihat jelas pada toolbar tertulis angka 13/06/2016. Aku bergumam, menantang fikiranku sendiri. “Hari ini atau menyesal seumur hidup”.

Suasana disekeliling seperti biasanya. Canda tawa menyelimuti pagi ini. teman-teman menyapaku sambil memberikan senyuman terbaik. Aku membalasnya dengan senyum simpul dan kembali sibuk dengan komputerku. Suasana berubah menjadi begitu tenang, aku melihat jam pada desktop, pukul 09.30. aku menoleh kebelakang, disana duduk seorang pria berkumis dengan rambut yang sedikit ikal. Aku menghela nafas dalam, fikiranku kembali memberikan keraguan. Membisikan kata-kata yang menakutkan, membuat jantungku berdegub begitu kencang. Aku memejamkan mata, menyandarkan badan dan menghela nafas sedalam-dalam mungkin, mengusir keraguan fikiranku sendiri. “Keputusan ini sudah tidak akan berubah lagi, tidak akan, tidak akan pernah sama sekali”, gumamku menghalau keraguan.

Aku berdiri, berjalan perlahan menemui pria berkumis dengan rambut ikalnya. Perasaan ku mulai kacau, ini merupakan zona yang paling tidak mengenakkan bagi seorang melankolis. Dengan suara yang berat, aku memberanikan diri.

“maaf Pak, ada waktunya sebentar?”, irama jantungku mulai kacau.

“iya, kenapa?”, sahut pria berkumis yang adalah pimpinan ku sendiri.

“hmmm, begini Pak, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan Pak”.

“silahkan duduk, tentang apa?”. Terlihat tanda tanya muncul dikepala pimpinan.

“sebelumnya saya berterimakasih telah diberi kesempatan untuk belajar banyak hal disini pak, ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. saya ingin kuliah lagi dan berencana untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang bapak pimpin.”, aku tertunduk mulai menebak reaksi yang akan terjadi.

“kalau itu sudah merupakan keputusan kamu, baiklah. Tolong disampaikan kepada HRD, karena hasil rapat terakhir menyatakan kamu diterima sebagai karyawan kontrak, saya takut bagian HC menilai kita main-main dalam pengadaan personil”. Jawab pimpinanku.

Aku masih tidak percaya akan semudah ini, seperti ikan kecil yang didalam aquarium yang dilepaskan ke laut luas, begitu bebas. Kemudian aku berrterima kasih dan bersalaman dengannya. Aku berlari kecil menuju meja HRD, dan menyampaikan maksudku untuk mengundurkan diri. HRD terlihat sedikit kecewa, dan menyampaikan hal yang mengejutkan dan membuatku bahagia.

“kamu tau ga, kalau nilai tes kamu untuk migrasi ke pegawai kontrak adalah yang paling tinggi diantara teman-teman mu”, kata HRD.

Aku sedikit terkejut, kemudian berusaha memberikan senyuman terbaik dan berkata, “ terimakasih Bu, tapi maaf ini sudah menjadi keputusan akhir, saya sudah lama memikirkan nya dan inilah saat terbaik”.

“kalau itu sudah menjadi keputusan Yankey, baiklah, mau bagaimana lagi. Semoga sukses untuk S2 nya”. Pesan HRD kepadaku.

“baik bu , sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak”. Aku berdiri dan bersalaman kemudian kembali ke meja kerja.

Dimeja kerja aku bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa, dari sebelah kiri datang teman karib menghampiri. “ngapain lu tadi?”, ucapnya.

Aku hanya tersenyum seolah senyum itu memberikan isarat bahwa aku akan menceritakan semuanya nanti. Dia mengangguk dan kembali kemejanya. Aku menatap komputer, kemudian tenggelam dalam dokumen dan irama ketikan keyboard. Aku mungkin akan merindukan meja ini, ini bukan hanya sebuah meja kecil dengan komputer desktop baru, yang aku terima 2 tahun yang lalu. Benda memang tidak memiliki kekuatan, namun benda bisa menjadi sangat kuat ketika menyimpan kenangan.

Tidak terasa sudah saatnya istirahat, temanku menghampiri. Mata sipitnya menatap tajam, seolah ingin mengatakan “ceritakan semuanya kepada ku”.  Aku menceritakan tentang pengunduran diriku.

“apa kau sudah dapat pekerjaan yang baru?”, tanyanya keheranan.

“sampai saat ini belum”, seperti ada awan kelabu dikepalaku sifat pesimistik seorang melankolis kembali meluap. Aku mempersiapkan diri untuk dibilang bodoh oleh temanku karena keluar sebelum mendapatkan  pekerjaan baru.

“ Keputusan yang bagus, aku sudah empat tahun bekerja disini dan tidak melihat masa depanku. aku yakin dengan kemampuan mu masih banyak perusahaan yang akan menerima”. Jawabnya meyakinkan.

Aku bahkan tidak menyangka akan mendengar kata-kata tersebut dari dirinya. Seorang plegmatis yang damai selau bisa mengangkat seorang melankolis pada saat terpuruk. Bahkan dia juga bisa menenangkan karakter sanguinis saat sedang berapi-api.

“tapi tolong rahasiakan pada siapapun ”

“tenang saja, kau bisa pegang kata-kata ku”, jawabnya yakin

***

Dua minggu berasa begitu cepat dan saat itu datang, rekan tim ku ibu sri dharma memberikan ku sebuah batik berwarna hijau cerah. Aku sangat menyukainya. Warnanya seperti menyatu dengan kulit ku. aku mengucapkan terimakasih banyak atas hadiahnya. Teman-teman sperjuangan memberikan ku tas cokelat yang kekinian. Aku juga menyukainya, warnanya adalah warna kesukaan ibu ku. hari ini 30 Juni 2016, aku menanggalkan tiga bola dunia berwarna biru dari kemeja di dadaku.   Ini adalah sebuah pilihan, tidak ada pilihan yang salah. Salah dan benar adalah cara berfikir dan cara pandang seseorang terhadap pilihan yang diambil. Pilihan adalah tantangan dan awal baru untuk sesuatu yang lebih baik. Termasuk untuk saya seorang melankolis dan sosiolophobia.

Terimakasih atas kesempatan dan rasa bahagia saat bekerja. Saya benar-benar nyaman bekerja disana dan saya ingin menantang diri untuk mengalahkan rasa takut dan phobia dalam beradaptasi.

Sebanyak pertemuan  sebanyak itu juga perpisahan. Hidup tidak diukur dari lamanya kita berjalan, namun dari isi dan kualitas perjalanan kita. Seperti kata andrea hinata, Hidup hanya berpihak pada orang-orang yang pemberani. Saya hanya menantang diri untuk keluar dari zona aman dan nyaman. Saya tidak ingin menjadi air menggenang yang lama-lama akan menjadi keruh. Saya ingin menjadi air mengalir yang selalu memaksa dirinya mencari dan menemukan jalan.

 

*melankolis       : kepribadian dasar seseorang dimana sifat dominannya adalah introvert, terstruktur, melihat hati dan jiwa kehidupan, perfeksionis, pesimistis dan terstruktur

*sanguinis          : kepribadian dasar seseorang dimana sifat dominannya adalah extrovert, mudah bergaul, menyenangkan, expresif dan emosional

*plegmatis         : kepribadian dasar seseorang yang tenang, bersahaja, sabar dan stabil

Iklan

Penulis: refiyon yoggy

"Saya ingin menjadi air mengalir yang selalu menemukan jalannya"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s