HIJAB

Seperti biasanya terlalu cepat tiga puluh menit sebelum ujian dimulai. Kebiasaan yang sulit ditinggalkan, walau sering dihianati oleh jam karet Indonesia, namun aku selalu tiba tiga puluh menit lebih awal. Aku menoleh meilhat seisi ruangan, senyap dan sepi. tidak terlihat  teman-teman sekelasku. Hanya beberapa ransel diatas meja dan kertas yang bertuliskan nama-nama. Aku meletakan tas dipinggir bangku, mulai mengeluarkan perlengkapan tulis dan beberapa buku. Dari sini white board terlihat begitu dekat, juga meja pengawas yang hanya dipisahkan satu ubin keramik. Meja disebelah kiri dan belakang ku juga belum bertuliskan nama, artinya belum berrpenghuni dan disisakan untuk orang-orang katanya apes dan telat booking. Aku cukup heran saat ujian masih banyak calo-calo yang bersedia membooking tempat tanpa dibayar. Mungkin dari sinilah calo-calo di terminal dan stasiun berasal, atau mungkin juga calo kelurahan, camat atau kantor bupati. Entahlah, fikiranku mulai mengajakku bercengkrama.

Aku mulai fokus dengan buku tebal yang baru saja ku raih dari ransel, meninggalkan keadaan sekeliling, tebenam dalam setiap pengertian dan persamaan. Setiap kata dalam buku tersebut menjelma bagaikan ular, meliuk-liuk bergerak masuk kedalam benakku. fikiran ku kembali mengajak aku bercengkrama dan mulai mengajukan pertanyaan pertanyaan. untuk apa semua ini?, apakah ini perlu?, persamaan yang bahkan tidak berguna untuk membeli sekilo gula. Aku kemudian tersenyum membalas pertanyaan fikiranku sendiri. “memang tidak dibutuhkan untuk membeli gula, namun suatu saat kau akan mengerti, ketika aku menjelajahi angkasa dan menemukan bintang baru, lengkap dengan planetnya yang dapat dihuni manusia”. Pernyataan itu cukup untuk membuat fikiranku diam dan mulai mengolah semua kata tersebut dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang.

“maaf eka,yang ini kosong?”

“maksudnya?, aku ga ngerti deh, apakah maksudmu mimpi itu hanya omong kosong?”, gumamku membantah pertanyaan benakku.

“maaf?, maksudku apakah bangku ini masih kosong?”

Aku menoleh, melihat sesosok pria. Ahh…. betapa bodohnya diriku, berdebad dengan fikiran sendiri hingga melupakan lingkungan nyata disekelilingku. Bahkan aku tak menyadari bahwa kelas telah berubah menjadi pasar kaget, dengan teriakan booking-bookingan dan ocehan taktik janji-janji contekan.

“ehh… anoo… maaf, aku ga tau, tapi sepertinya masih kosong” jawabku sedikit gagap.

“aku duduk disini saja ya”.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Aku berfikir pasti dia juga akan menganggap aku orang yang aneh, pendiam, kuno dan pelit. sama seperti teman-teman lain memandang ku.

Hijab ini membuat teman-teman ku memandang aku sebagai seorang yang kuno, ketinggalan jaman dan tidak gaul. Beberapa teman pernah memberikan saran kepadaku untuk menanggalkannya, beberapa yang lain memberikan tutorial hijab modern yang dililit-dililit agar aku dapat meniru nya. namun semua saran mereka aku tolak dan semenjak saat itu  mereka menjauhiku. Aku tidak mempedulikannya. Bagiku, hijab ini adalah harga mati.

Sama hal nya dengan julukan pelit, mereka memberiku julukan itu lantaran aku tidak mau memberikan contekan, terlalu sibuk dan berpura-pura tidak mendengar mereka saat ujian. Padahal aku benar-benar tidak mendengar mereka, karena terlalu focus dengan soal-soal. Beberapa teman yang lain menjuluki ku dengan kata-kata munafik. Hanya karena beberapa kali melihat akhwat lain masih dijalanan pada malam hari sekitar pukul Sembilan. Padahal mungkin saja mereka keluar untuk membeli makanan karna rasa lapar yang tiba-tiba melanda. Dan yang paling tidak mengenakan, mereka menyamakan semuanya, hayna karna sama-sama berhijab. Sempat fikiranku juga ikut menyuruhku untuk menanggalkan hijab ini, dan aku kembali berdebat meyakinkan fikiranku sendiri.

“hijab dan ahlak adalah dua hal yang berbeda. Hijab adalah kewajiban yang diberikan Allah kepada setiap wanita, sedang ahlak adalah kepribadian yang tertanam dalam diri seseorang. Jika ada seorang yang berhijab melanggar aturan Allah itu bukan karena hijabnya, melainkan karena kepribadiannya. Kewajiban dan ahlak sama-sama akan dipertanggung jawabkan kepda Sang Pencipta”. Tapi…… seolah fikiranku masih ragu. “hidup ini untuk apa?, hanya sebuah perjalanan dari tanah, diatas tanah dan menjadi tanah, yang terpenting adalah isi dari kehidupan itu, bukankah tujuan kita adalah kebahagiaan dunia dan akhirat?”, gumamku. Fikiranku hanya diam dan membenarkan argumenku. Hingga saat ini aku masih dengan hijabku.

Terakhir adalah julukan aneh. Aku menyadari mereka memberikan julukan itu karena melihatku sering sering bergumam sendiri, senyum tanpa sebab, dan kadang tertawa. Aku tidak menyalahkan mereka dengan julukan ini, karena memang begitu adanya. Fikiranku seolah-olah memiliki pemikiran sendiri, selalu menanyakan beberapa hal yang tidak masuk kedalam logikanya. Kadang ia membuat lelucon yang membuatku tersenyum dan tertawa. Kadang ia mengajak ku berdebat sehingga tanpa sadar bibirku bergerak sendiri dengan gumaman yang orang lain tidak mengerti.

Sekarang adalah ujian Akhir semester dua, dan hingga saat ini aku masih belum memiliki teman karena keanehan keanehan yang terdapat dalam diriku.

“eka… kamu ngerti ga tentang jembatan Einsten Rossen?”, ucap kira yang baru saja duduk disebelahku.

“Worm Hole?”, jawabku sambil menaikan alis.

“ya, bisa kamu jelaskan ga?” kira sepertinya sangat tertarik.

“ammm… Worm Hole adalah sebuah benda bermasa besar yang menarik banyak benda yang ada disekitarnya, bahakan cahaya pun……… “.

Tiba-tiba Susana menjadi senyap dan secara refleks mulutku berhenti bicara. Dosen pengawas sudah berada tepat dihadapan ku. bersiap dengan map cokelat tersegel ditangannya.

“oke, nanti kita diskusikan lagi”, bisik kira sambil melirik kearah pengawas.

Aku mengangguk sambil menyimpan semua buku dimeja. Sayup-sayup terdengar bisikan teman-teman yang lain.

“wah kenapa harus dia sih yang ngawas?”,ucap salah seorang dibelakangku.

“iya nih, bakalan gagal semua kita semester ini”.

Dan seketika itu kelas menjadi riuh setelah keheningan sesaat. Dosen yang mengawas saat ini adalah seorang yang disiplin, ketat dan membenci kecurangan. Bapak Mamka adalah nama yang paling ditakuti di Jurusan Fisika.

“Dukkkkk”, hanya dengan satu pukulan dimeja semua mahasiswa menjadi tenang. Bapak Mamka mulai membagikan soal dan lembar jawaban. Seperti biasa aku memulainya dengan doa, dan kemudian fikiranku merecall ingatan memori jangka panjang, membuatku hanyut dalam setiap pertanyaan. Meninggalkan dunia nyata disekelilingku dan focus kepada selembar kertas dihadapanku.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s