Bulgari Extrem dan Wallet Cokelat

Tiga belas tahun setelah aku melihat gadis itu, bayangannya masih melekat kuat difikiranku. rambutnya yang dikuncir indah dengan pita merah muda, sungguh sangat menawan. Parfum bulgari extrem, tak mau meninggalkan syaraf hidung ini bahkan setelah belasan tahun tidak mencium aromanya. Dia terkunci rapat didalam saraf sadar karnial, tidak ada celah keluar. Senyumannya sangat indah, walau hanya sekali namun tidak pernah engkang dari benak ini.

“Penerbangan J15A silahkan menaiki pesawat melalui gerbang 3”, panggilan pesawat penerbangan ku, lamunan ku terhenti.

Hari ini adalah keberangkatan ku menuju negeri tirai bambu tempat dimana sakura-sakura bermekaran. Aku terpaksa meningalkan Bukit Tangah, Surau, teman-teman, dan yang pasti ibu, ayah, dan adik kakak ku. Menyimpan kenangan dua puluh tiga tahun didalam benak. Memang sangat berat, tidak ada ruangan yang cukup untuk memory lain, bahkan kenangan dua puluh tiga tahun ini terasa ingin tumpah melalui deraian air mata, senyuman, tawa, dan kerinduan. Perjalanan ini menguras banyak emosi, bahkan ketika aku masih di ruang tunggu Soekarno Hata. Air mata ini keluar begitu saja, tanpa ku sadari. Air mata ibu ketika melepasku di Badar udara Minang Kabau tak dapat kulupakan. Itu adalah sebuah salam perpisahan, kerinduan, harapan, dan kekhawatiran. Tanpa kata-kata air mata itu sudah cukup untuk menyatakan itu semua. Entahlah…. semua ini karena mimpi yang telah aku bangun, dan tidak ada seorang pun yang akan bertanggung jawab terhadap mimpi ini selain aku seorang. Ini juga untuk mewujudkan cetak biru kehidupan, ketika Allah mengizinkan ku untuk mewujudkanya, maka aku harus melakukannya.

“Panggilan kedua untuk penerbangan J15A silahkan menaiki pesawat udara melalui gerbang tiga”, aku terhenyak, lamunanku buyar.

Aku meraih koper disebelah tempat duduk. menariknya, terasa agak berat. Aku berfikir bahkan roda koper ini enggan untuk berangkat. Fokusku buyar, bahkan ketika diminta melihatkan pasport dan boardinpass aku hanya melongo. Sampai petugas memintanya untuk yang ketiga kali, sungguh ini sangat tidakbiasa. Dengan fikiran yang campur aduk aku melewati sebuah koridor yang cukup sempit. Dari kejauhan didepanku terlihat sorang gadis, mengenakan baju dengan bendera jepang di bagian punggungnya, rambutnya dikuncir, mengenakan tas pinggang dan menenteng sebuah koper yang berat. Dia terlihat kesusahan dengan tas pinggang dan koper besar itu. Dan benar…. tepat di pitu pesawat, gadis itu tersdandung dan jatuh. Semua isi kopernya berantakan, kacamatanya jatuh dan terinjak. Dia berusaha meraba kacamatanya yang jatuh, mengenakannya dan ternyata terdapat retakan pada kaca sebelah kiri. Tanpa mempedulikan kacamatanya, dibantu pramugari ia membereskan semua isi koper kemudian masuk ke dalam pesawat. Aku tidak terlalu respon dengan keadaan tersebut. Aku masuk kedalam pesawat mencari tempat duduk, meletakan kopper, kemudian duduk dan mengencangkan sabuk pengaman. Sekitar sepuluh menit sebelum berangkat, pramugari sibuk memberikan arahan keamanan pesawat. Aku ta tertarik, ku layangkan pandangan menuju jendela pesawat. Pandangan ku jauh menembus selat sunda menuju gonjong surau bukik tangah. Sanga rindu, bahkan sebelum aku tiba di negeri sakura.

“pesawat akan segera lepas landas, silahkan kencangkan sabuk pengaman anda”, ini pertanda aku akan terbang.

Mesin pesawat mulai menderu, memekakkan telinga. Melesat mulai dari kecepatan 1000 knot, 2000 knot dan terangkat pada kecepatan 2500 knot sekarang disinilah aku, berenang mengarungi stratosfer indonesia menuju negara penghasil ramen. Setelah berada pada ketinggian 40.000 kaki aku memasang headset dan mulai tertidur.

Kūkō naritakokusaikūkō de kangei”{ ( dalam nihon artiya selamat datang di bandara narita internasional airport).

Aku membuka mata, tak terasa aku telah beranjak dari tanah kelahiranku. Sekarang aku benar-benar ada di jepang. Semua orang telah bersiap untuk turun, begitu tertib orang-orang yang paling depan satu-persatu mulai keluar dari pintu depan, begitu juga yang paling belakang. Karena possisi ku tepat tengah maka aku harus rela menjadi penumpang terahir yang turun. Aku mengambil koper dari desk, bersiap untuk turun.

“terimakasih telah memilih …… untuk menjadi partner penerbangan anda”, seorang pramugari tersenyum ramah padaku. Aku membalasnya dengan senyum tipis.

Aku menuruni anak tangga, berjalan menundukan kepala. Entah mengapa kepala ini terasa begitu berat saat aku sampai di negeri ini. Bukan hanya karena kenangan dua puluh tiga tahun tapi juga pening melihat kanji disetiap papan pengumuman. Aku terus berjalan… dan sebuah dompet kecil berwarna cokelat tergeletak tepat dihadapanku. Bingung akan berbuat apa, menoleh kekiri dan kanan . Tak ada yang peduli dengan dompet cokelat tersebut. Aku memungut dan membukanya. Ketika melihat isinya aku langsung tau kalau ini adalah barang yang sangat berharga bagi pemiliknya. Sangat berharga bahkan ini akan sangat bermasalah jika ia tidak segera menemukannya. Aku lantas berlari kecil menuju petugas keamanan.

“I found this wallet in the road, I think you can help me to find who is the owner?”, dengan agak terbata-bata aku memberanikan diri.

“nihongo,nihongo, watashi no english wakarimsen”. Petugas itu mejawab dengan nihongo.

Aku mulai kebingungan, walau telah berlatih beberapa bulan namun nihon ku masih belum mampu untukberomnikasi aktif. Dengan wajah kebinungan aku berlalu meninggalkan petugas tadi, berlari kecil melewati koridor. Orang-orang meneriaki saya karena merusak antrian, namun untungnya saya idak mengerti ocehan mereka. Saya terus berlari berharap menemukan pemilik dompet ini, melihat liar kekiri dan kekanan, namun tidak melihat apa-apa.

Aku lelah kemudian duduk, tak ada satu orang pun yang ku tanyai mengerti bahasa inggris, aku menyerah. Aku melihat sekeliling, aku seperti alien yang sedang berada dibumi. Semua orang yang lewat melihatku dengan sinis, sekakan belum pernah melihat manusia sebelumnya. Aku melayangkan pandangan jauh menuju bagian informasi, aku mengetahui itu bagian informasi karena ada tulisan information dibawah kanjinya. Aku lantas kesana, berjalan sambil menyeret koper. Dan hati ini bergetar begitu kencang, aroma bulgari extrem, aku tidak percaya, aku mempercepat langkah berharap menemukan gadis yang telah lama tidak aku temui. Sudah bak anjing pelacak, sumber bau wangian terebut mengantarkan aku pada seorang gadis. Seperinya aku mengenali gadis tersebut, dia tengah sibuk berdebat menggunakan nihon dengan dua orang polisi jepang. Aku menghamprinya, menyentuh pundaknya. Dia berpaling, menatapku dibalik linangan air matanya. Aku tersenyum, ia langsung berlari dan memelukku dengan sangat erat, kemudian membungkuk mengucapkan terimakasih berkali-kali.

.:bersambung

Iklan

Penulis: refiyon yoggy

"Saya ingin menjadi air mengalir yang selalu menemukan jalannya"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s