Turis Tacicia

Turis Tacicia

Yoggy refiyon

ini merupakan kisah saya ketika masih bocah. Sekitar 17 tahun yang lalu, saya berumur 4 atau 5 tahun. Ingatan ini layaknya khayalan yang apakah benar-benar terjadi atau hanya imajinasi semata. Saya juga ragu sampai saya menemukan sebuah album kuno di atas rak lemari tua. Album yang penuh dengan debu dengan beberapa foto usang termakan usia. Saya membalik lembar demi lembaran album, setiap lembar menghantarkan saya kepada ingatan masa lalu. jauh….jauh… melewati lubang sempit wormhole menuju sebuah dunia parallel yang serupa dengan kehidupan masa lalu.

Saya menyelami kehidupan masa lalu, sekitar 17 tahun yang lalu. Ketika hidup dalam kesederhanaan, tanpa banyak campur tangan teknologi dan budaya asing. Satu-satunya media informasi yang ada hanyalah sebuah TV panasonik hitam putih berisi sebuah chanel TV nasional. Gambarnya buram, suaranya bagai suara kambing kesetanan. Tidak jelas. Aku tidak tertarik. permainan sipak tekong, patok lele, kelereng, cak bur, bahkan permainan Kampar (semua adalah  permainan tradisional) dirasa lebih menarik dan menantang.

Kala itu langit mulai memerah. Sang mentari bersembunyi dibalik kokohnya bukit tangah. Assimilis (jangkrik) mulai menyenandungkan suara merdunya, membuat semua nenek siaga memasang pasak jendela rumah gadang. Tidak tanggung-tanggung sebuah balok kayu besar terpampat kokoh mengunci jendela rumah gadang. Biasa nya tak lama setelah jendela rumah gadang terkunci mulai muncu suara-suara yang paling tidak kami sukai. Benar saja, sedang asik bermain patok lele suara itu mulai terdengar. Aku abai, dan terus melanjutkan permainan. Beberapa menit kemudian suara itu kembali terdengar.

“ayo malin masuk lai, nanti di bawa hantu gau-gau”

Kali ini aku langsung menghentikan permainan, berlari menuju rumah. Begitu juga dengan ujang dan teman-teman ku yang lain. Kocar-kacir menuju rumah masing-masing. Hantu gau-gau adalah hantu yang sering menculik anak-anak, berbadan hijau kekar dengan rambut panjang terjuntai. Layaknya hewan ia hanya aktif di waktu magrib, kala jangkrik mulai bersenandung. Dia membawa anak-anak dengan menjelma menjadi orang terdekat dari anak tersebut.  Tanpa sadar anak-anak akan mengikutinya melewati dunia yang sama namun berbeda. Logikanya dia bisa saja ada di keranda surau kaki bukit tangah, namun dalam dimensi yang berbeda. Jadi anak yang disembunyikan hantu gau-gau tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. “Mengerikan memang.”

“Ayo mandi, selesai itu lekas kau ke surau untuk sholat magrib, malin.” Umi mulai berciloteh. (umi = nenek)

Aku tak lantas mendengarkan, langsung menuju pojokan rumah gadang dan menyalakan TV hitam-putih tua. bukan karena ingin menyaksikan film kesukaan, namun lebih untuk mengulur-ulur waktu mandi sehingga bisa terlambat sholat magrib ke surau. Sangat tidak patut dicontoh, namun begitulah keadaan saat itu.

“matikan TV nya malin”, umi mulai berciloteh lagi

Satu, dua, tiga kali ciloteh umi aku abaikan. Berpura-pura asik menonton ribuan semut yang memadati TV. Berpura-pura pekak mendengarkan kicauan kambing kesetanan. Aku tidak mempedulikan umi. Ini kali keempat aku masih abai. Tidak menoleh sedikit pun. Namun beberapa menit kemudian ciloteh itu berakhir, tak terdengar suara lagi. Aku menang, mengalahkan ciloteh umi dengan berpura-pura pekak. Aku merayakan kemenangan ku dengan nyanyian kecil, namun lima deret lidi mendarat di punggungku. Aku tersentak langsung berbalik. Sesosok wajah keriput tapi tidak renta. Ternyata lidi tadi dilayangkan umi, aku bangkit melesat menuju kamar mandi dan berangkat berangkat ke surau. Belum ada undang-undang perlindungan anak masa itu, dan ini belum berakhir.

Aku keluar rumah, berjalan dijalanan tanah kering yang pinggirannya ditumbuhi rumput gajah mini. Melewati pohon besar yang telah berumur ratusan tahun, ‘saus’ begitu orang-orang di daerah ku menyebutnya.  Ini bukan pohon dengan buah yang pedas. Rasa buahnya manis, lembut dan memiliki serat-serat yang agak kasar. Orang intelek memanggilnya M. zapota. Di sebelah pohon itu berdiri rumah gadang nan indah, di dindingnya terpahat indah ukiran ‘pucuak rabuang’. Sangat berbeda dengan rumah gadang ku yang berdinding kan papan polos dan anyaman bambu. Ukiran pada dinding rumah gadang merupakan gambaran kehidupan masyarakat minang kabau, dan juga status sosial. Dengan kata lain orang yang memiliki ukiran dirumahnya merupakan orang yang disegani.

“ujang…. Oi ujang….”, dengan suara lantang aku memanggil sahabatku yang mungkin saja masih berdiam didalam istana gadangnya.

Tak terdengar balasan, menandakan semua penghuninya telah pergi menuju surau kaki bukit tangah. Aku lantas bergerak di terangi kemerlap obor-obor yang berbaris rapi di pinggiran jalan. Tiga menit berjalan, aku menemui pertigaan dengan jalan setapak yang lebih besar. Tepat disisi kiri pertigaan terdapat sebuah ‘lapau’ (kedai kopi) yang dihuni para mamak, daruak, dan pemuda nan tak peduli dengan kumandang azan dari surau. Melewati lapau ini adalah hal yang paling aku benci. Dan hari ini aku juga harus mendengarkan kata-kata itu.

“woi turis tacicia kemana kau?” salah seorang penghuni lapau meneriaki ku. Diikuti tawaan orang-orang sekitarnya.

Aku tak lantas menjawab, menoleh kemudian berpaling berlalu melewatinya. ‘turis tacicia’ ejekan yang melatarbelakangi namaku. Tacicia artinya tercecer , jadi mereka menganggap aku adalah seorang anak turis yang tercecer. Mungkin dikarenakan aku sangat berbeda dengan uda ku. Aku dilahirkan dengan mata sipit, rambut pirang dan mata sipit. Persis seperti seorang anak cina. Berbeda dengan udaku yang berkulit hitam, berambut hitam, walau tetap memiliki mata sipit.  Tapi dia lebih menyerupai penduduk pribumi.

Aku terus berjalan, melewati hamparan sawah dikanan dan kiri. Sawah yang sudah ditanami memang sangat indah, diatasnya menari beberapa kunang-kunang yang menyala bergantian bak lampu flip-flop pada zaman kini. Suasana ini membuat aku melupakan ejekan orang-orang lapau tadi. Hati ini kembali bersemangat semakin mantap mencengkramkan kaki di atas tanah.

Penghujung sawah, aku sampai di surau kaki bukit. Aku bertemu dengan rekan karibku ujang. Kami berwudu kemudian bermain sejena,k berlari-lari berkeliaran di halaman surau. Walau ujang tau aku sedikit berbeda, namun ujang tak pernah memanggilku dengan sebutan itu. Tak lama berselang, Ikamat, kami bergegas masuk surau berdesakan dan lekas mengambil syaf. Imam takbiratul ihram, kami masih sikut menyikut berebut syaf. Sebetulnya ada banyak ruang kosong, tapi kami berebut menduduki sudut surau. Tidak ada nilai lebih di sudut surau, hanya saja lebih aman dari kamera pengintai yang pemarah. Kami memanggilnya “Datuak”. Datuak adalah sebutan untuk kakek, memang sudah tua tapi beliau adalah guru mengaji kami.

Benar saja tak lama berselang rotan kecil menampar paha kami, semua langsung berbaris rapi. Menyusun syaf bak tentara berbaris.

“ayo sholat”, dengan lantang datuak menyuruh kami sholat.

Semua terdiam dan bergegas sholat, kecuali dua orang pada bagian sudut surau. Ketika datuak memulai takbiratul ihram mereka kembali sibuk bertengkar, saling sikut. pada akhirnya juga akan disuruh untuk sholat lagi setelah semua orang selesai sholat, dan akan menjadi bahan cemoohan. Begitulah Datuak mendidik kami.

***

Iklan

Penulis: refiyon yoggy

"Saya ingin menjadi air mengalir yang selalu menemukan jalannya"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s