Lentera, Obor dan Sang Mentari

Lentera, obor, dan sang mentari

.:Yoggy refiyon

Adzan magrib berkumandang, sang mentari mulai menenggelamkan dirinya di pesisir barat lautan nan  memerah. Menandakan tugasnya untuk memberi kehangatan dipermukaan bumi telah usai pada hari itu. Dikegelapan senja aku mulai menampakan diri, dari setitik terus dan terus membesar hingga cahaya ku cukup untuk memberikan kehangatan di sekeliling gubuk sederhana. Dinding gubuk yang teranyam oleh bambu melewatkan udara segar untuk dihirup, membuat nyala ku semakin hangat.

Aku tidak peduli telah berapa banyak udara yang telah aku hirup, yang terpenting hanyalah bagaimana nyalaku selalu cukup untuk menghangatkan gubuk ini sampai mentari kembali memaparkan radiasi kehangatannya. Aku hanya sebuah lentera kecil yang menghiasi setiap malam, memberikan warna di kegelapan malam memecah hamparan hitam dengan  kilauku yang hanya setitik. Menjadi mentari kecil malam bagi gubuk walau cahaya ku tak sehangat dan seterang mentari. Setiap pagi aku tersenyum melihat kehadiran mentari. Cahayanya selalu menyilaukan mataku. Aku sadar akan hadir ku yang tidak begitu terang, jadi kala mentari datang menjelang aku tengelam menyaksikan mentari dari dalam lautan keindahan gubuk sederhanaku. Gubuk ini adalah hal terpenting dalam hidupku, aku mempertaruhkan segalanya  demi menjaga gubukku ini tetap hangat dan nyaman untuk ditempati. Karena dalam gubuk ini tersimpan harapan orang-orang yang telah berkorban untuk ku. Mereka memberiku kehidupan, tak peduli mereka akan terbakar dan menguap.  Yang mereka fikirkan hanya bagaimana aku bisa tetap bersinar,,, Hanya itu…..  kilauan ku akan menjadi kebanggaan bagi mereka, tak peduli sekecil apapun itu. Dan aku akan terus bersinar untuk memecah kekelaman harapan yang tersimpan dalam gubuk sederhanaku ini. Telah banyak hari ku lewati bresama mentari, kami telah bersahabat lama. silih berganti berbagi tugas untuk memberi kehangatan. Mentari selalu memperhatikan gubuk sederhanaku, memberikan kehangatan lebih untuk gubukku. Dan aku selau bahagia jika sang mentari muncul dan menyapaku, mengatakan padaku bahwa dia akan selalu memberikan kehangatan untuk gubukku. Tapi hari ini terasa berbeda aku tak dapat merasakan pancaran cahaya putih sang mentari. Aku juga tidak bisa menyaksikan hamparan biru gelombang pendek di atmosfer.  Kehangatan sang mentari hanya sebatas garis putus-putus yang kadang terhalang oleh gumpalan padat awan hitam. Benda itu begitu gelap menelan kilauan cahaya sang mentari. Aku mulai bersinar lagi, berharap dapat menghalau gumpalan hitam tersebut. Namun cahaya ku terlalu lemah, terlalu kecil untuk dapat menggapai dan mengusir gumpalan hitam tersebut. Aku tak menyerah, kuhirup semua udara segar yang masuk ke gubuk. cahayaku makin besar, tapi ini masih belum cukup. aku terus mengerahkan tenaga, Tapi itu hanya membuat  tubuhku menghitam. Cahaya ku kembali meredup dan aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku terpaku melayangkan pandangan kearah awan hitam. Kulihat sang mentari asik bermain dengan awan hitam tersebut, mengabaikan gubukku yang haus akan pancaran kehangatan sinarnya. Sang mentari *Kebyar memberikan semua cahayanya kepada awan hitam. Menutup asa ku untuk mengharap kehangatannya, dan aku terpaksa mengelipkan cahayaku sepanjang hari ini. Pagi kembali menghampiri sang mentari masih asik dengan gumpalan awan hitamnya. Aku mengharap sinarnya, tapi ia masih lengah bermain dengan awan hitam.  Aku cemburu, aku menginginkan posisi awan hitam tersebut. Namun semua itu mustahil, karena di sinilah takdir ku, menjaga gubuk sederahana ini. Aku tak kan pernah bisa menggapai langit, tak  bisa berenang diangkasa seperti yang dilakukan awan hitam. Aku frustasi… kecewa…layakyna *fukara yang tak pernah mendapatkan belas kasihan. Aku melampiaskan kekecewaanku, mulai abai terhadap sang mentari, aku tidak peduli dengan berkas-berkas sinarnya yang melewati gumpalan awan hitam. Aku tidak peduli dengan kehangatan yang telah diberikannya kepada gubukku selama ini. Aku tidak peduli dengan senyumannya setiap pagi,,,, aku tidak peduli dengannya,,,, dan aku tidak akan peduli……. Malam datang. Hati ini masih kacau memikirkan sang mentari dengan awan hitam. Gemercik ku tak menentu, cahaya ku goyah sehingga ku tak dapat memberikan kehangatan yang merata untuk gubuk ini. Udara yang melewati dinding bambu tak terasa segar lagi, hanya membuat aku semakin kacau. Aku terpuruk, aku berada pada titik terbawah dalam hidup ini. Aku termenung melayangkan pandangan ke jendela gubuk yang terbuka, jauh melewati sela-sela pepohonan mangroff. Pandangan yang tidak benar-benar melihat, hanya sebuah bayangan kosong yang menyentuh retina, semu tak bermakna… aku larut dalam kekosongan ini sampai pandangan ku terhenti oleh sebuah titik, titik cahaya kecil. Aku fokuskan lensa mataku, cahaya itu terihat semakin besar. Aku ragu apakah ini hanya imajinasi dari kekosonganku atau cahaya itu benar-benar makin besar?. Aku terpana mellihat cahaya tersebut, indah dan besar, hembusan  angin memberikan irama membuat ia berlenggok-lenggok menari memaparkan pesonanya. Hatiku beresonansi, bergetar mengikuti irama  dan aku larut dalam tarianya.  Ia menghampiriku, mendekati ku dengan senyuman manis. Aku jatuh cinta… jatuh cinta dengan gemerlap cahyanya, tubuhnya tersusun dari kepingan bambu ramping nan mempesona membuat mata ku semakin berbinar. Dialah obor, pengisi kekosonganku. Menawarkan secerca kehangatannya untuk gubuk sederhanaku. Kami menjalin hubungan dan sekarang aku tidak kacau lagi, obor menjadi obat bagi luka dihatiku. obor menemani kilauan cahayaku sepanjang malam, bersinar bersama menghangatkan gubuk ini. Aku fikir panasnya cahaya obor akan membakar semangatku untuk tetap menyala lebih hangat lagi. Aku bahagia dengan kehadiran obor disisiku.

Hari-hari kulewati bersama obor, terasa bahagia bisa menghangatkan gubuk dengan kilauan cahaya kami berdua. Gubuk semakin hangat dan nyaman. Walau udara yang melewati dinding bambu berkurang, tapi tak apa yang penting gubuk ini tetap hangat dan aku bahagia.

Tidak terasa aku sudah bersama obor  selam 2 tahun. Kami telah memberikan kehangatan pada gubuk ini bersama-sama. Tapi aku mulai merasakan ada yang aneh, tepat saat angin kencang datang. Angin kencang ini membuat obor tak terkendali, kehangatannya berubah menjadi api pembakar yang sangat panas,  bergerak tak terkontrol mebuatku terpanggang, kacaku retak karena tak mampu lagi menahan suhu yang begitu panas, tubuhku menghitam. Aku takut obor ini akan membakar gubuk sederhanaku, membakar semua harapan yang tersimpan didalamnya. Aku terpaksa menyuruh sangobor pergi, meninggalkan ku sendiri demi melindungi gubuk sederhanaku ini. Aku telah memilih dan aku tidak boleh menyesal, karena aku hidup bukan untuk diriku sendiri, tapi juga untuk gubuk penyiman harapan pengorbanan. Tak peduli aku kembali sendiri dalam kesepian malam. Bercahaya dalam kesunyian dengan kaca yang retak.  kaca yang tak mungkin lagi diperbaiki, dan walau aku akan tetap retak selamanya tak kan pernah ku biarkan seorang pun menghancurkan gubukku. Tak terasa telah pagi, aku meredup. Cahayaku digantikan oleh sang mentari yang bersinar terik. Aku tak peduli dan aku memejamkan mata mengabaikan sang mentari. Berharap malam nanti aku masih dapat bersinar untuk gubukku. Sapaan sang mentari menjadi kata tak berarti bagiku, dan sebuah basabasi tak bermakana. Sampai malam menjelang, aku membuka mata dan kembali bersinar. Ku lihat di sekeliling tidak ada yang menemani, biasanya aku ercahaya bersama obor. Tapi sekarang aku bercahaya dengan kacaku yang retak. Cahayaku tampak kusam, warnanya tak lagi seindah yang dulu, warnanya mulai ternodai oleh kegundahan ku sendiri. Aku kembali bermenung, menegadahkan kepala kesela-sela atap yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Aku melihat sinar yang besar, bulat seperti bola berwarna putih, cahayanya yang dingin memberi warna pada gubukku. Aku berteriak menanyakan namanya, tapi tidak ada jawaban. Dia hanya diam membisu tidak menghiraukan aku. Hanya memberikan  cahaya dinginya, membuat nyalaku lebih indah. Aku terus berteriak menanyakan namanya. hingga pagi menyapa, aku tidak mendapatkan jawaban dan cahaya putih itu lenyap. Mentari kembali menyapa ku dengan hangat, namun aku ingin memejamkan mata untuk tak menghiraukan sang mentari. Terbesit dalam fikiranku kalau mentari hanya akan menenggelamkan ku dalam kilauan harapan kosong. Dia tak kan pernah berbagi cahaya untuk gubuku dimalam hari, dan terkadang disiang haripun ia asik bermain dengan awan hitam. Aku lantas ingin menghilang meninggalkan semua kegundahan diretakan kacaku. Menjelaskan kepada sang mentari kalau aku adalah lentera retak yang terabaikan. Aku meredup menunggu malam sepi menghampiri, untuk mengisi gubukku dengan secerca kehangatan. Sang mentari seolah-olah tidak mengerti. Ia bersikap biasa, tetap memberikan cahaya lebih untuk gubukku. aku kesal menghardik sang mentari, ” mentari, untuk apa kau berpura-pura baik padaku. Cahayamu begitu terang dan hangat, buat apa kau menyia-nyiakannya menyinari gubuk kumuh ku ini. Kau berikan saja kilauanmu untuk awan hitam kekasihmu”. Luapan emosiku itu tidak membuat sang mentari marah, ia hanya tersenyum dan tetap memberikan cayanya untuk gubukku. aku makin kesal, senyuman mentarikuterjemahkan sebagai ejekan untukku. lantas aku kembali berteriak, “aku tau kalau kau sempurna, tapi kilauan mu hanyalah kilauan palsu. Kau pemberi harapan kosong. Berapapun kau berikan cahaya  untuk gubukku aku tidak akan pernah berterimakasih kepadamu. Aku tidak meminta kau memberi cahaya lebih untuk gubukku. kalau bisa tak usah saja kau sinari gubukku. biarkan aku selalu tengelam dalam kegelapan harapanku”. Sang mentari tetap bersinar, tetap memberi kehangatan lebih untuk gubukku. membuat aku kesal, tapi tak berdaya untuk menghentikannya. Aku menjadi lentera kecil sombong… tidak berdaya, tidak menyadari kalau cahaya mungil lentera ku takkan mampu memberi kehangatan gubuk sepanjang hari, sepanjang masa.  Tanpa bantuan sang mentari aku bukan apa-apa, tapi aku buta akan kesombongan ku sendiri. Mentari masih menyinari gubuk ku dengan air mata dipipinya. Aku tak tau apa dibalik kepeduliannya, tapi yang pasti aku merasakan ketulusannya. Aku malu, ingin menarik semua kata-kataku. Nasi telah menjadi bubur, semua telah terucap. Aku akan menerima jika mentari akan membenci ku tapi aku takut jika sang mentari tak akan pernah memaafkan ku. Aku ingin mengucapkan maaf kepada sang mentari, namun dalam rintikan hujan ia mulai tenggelam kedasar lautan. Aku berteriak menahan sang mentari agar tidak terbenam dengan cepat, tapi suaraku tidak mau keluar. Tertahan rasa malu dan takut. Aku pikir mentari tak akan memaafkanku selamanya, abai tak hirau kepadaku. Aku menatap matahari yang mulai tenggelam bersama tangisan rintikan hujan yang memecah cahayanya menjadi hamparan gelombang mejikuhibiniu. Inikah balasan sang mentari?, tetap menampakan keindahannya kepada ku walau kata-kataku begitu menyakitkan untuknya. Aku menyesal, benar-benar menyesal. Ingin mengejarnya, menyampaikan permintaan maafku yang sangat dalam. Menangis dihadapannya bersujud agar maaf ku diterima. Tapi itu semua terlambat, matahari tenggelam dan cahaya yang indah itu lenyap ditelan dalamnya lautan. Kelam……. aku menjadi lentera bodoh yang tdak tau terimakasih. Membalas kebaikan dengan kata-kata kasar yang menyayat dan menusuk kalbu. Keangkuhanku menjerumuskanku kejurang yang penuh dengan penyesalan. Apa yang harus ku perbuat? Aku benar-benar menyesal tapi aku tak tau harus berbuat apa?. Cahaya ku mengecil dipadamkan rasa sesal keangkuhanku. Aku terdiam, membisu dikeheningan malam. Berharap mentari besinar lebih cepat agar aku dapat mengutarakan rasa sesal dan maafku. Tapi mungkin mentari takkan pernah bercahaya lagi, takkan ada cahaya pagi untuk gubukku. mentari akan sangat membenci ku. malam ini terasa panjang setiap detik kuhabiskan dengan merenung. Aku terus bermenung menyesali semua yang telah kukatakan sampai suara gema dari suatu tempat yang jauh diatas menghentikan renunganku. Memanggil ku dengan suara lantang. Aku mengangkat kepala mencari dari mana asal suara itu, dan ternyata itu adalah suara sang rembulan, bola bulat putih dengan cahaya dingin yang ku lihat kemaren. “lentera, apa yang membuat kau begitu gaduh?”, sang rembulan memulai pembicaraan dengan ku. suara rembulan bagai senandung yang memperbaiki setiap kepingan rusak didalam hatiku yang kacau. Mengobat kesendirian ku dalam penyesalan, menjadi teman melewati malam panjang ini. “aku telah berkata-kata kasar pada sang mentari, aku takut sang mentari takakan memaafkan ku. aku takut meminta maf kepada sang mentari”, jawabku kepada rembulan. “belum terlambat untuk meminta maaf, aku hanya ingin menyampaikan kepada mu kalau mentari menyayangimu. Ia sangat menyayangimu, bahkan ketika malam ia selalu memperhatikanmu. Apakah kau tidak menyadarinya?” ucap sang rembulan. “benarkah? Apakah mentari benar-benar menyayangiku?, bagaimana bisa?, ketika senja ia telah lenyap tenggelam dalm lautan, bagaiman ia akan memperhatikanku ketika malam?”, aku kembal brtaya kepada rembulan. “cahaya dingin putih tbuku ini adalah titipan cahaya sang metari, sebenar nya aku hanya bola bulat tak bercahaya, mentarilah yang memberikan cahayanya kepadaku. Ia meberikan cahayanya kepadaku dan menyruhku untk menerangi gubukmu. Menyuruh ku menemani mu sepanjang malam agar kau tak padam meninggal kan gubukmu. Sang mentari tau alau gubuk itu adalah harta berharga bagimu, jadi ia terus menjaga gubuk itu untukmu’. Rembulan melanjutkan penjelasannya. “kalau ia benar-benar menyayangiku mengapa ia asik bermain  dengan awan hitam kala siang menjelang?, mengapa ia tak memberikan cahaya nya untuk gubukku?”, ucapku “kau benar-benar lentera kecil yang egois. Tidak kah kau tau kalau sang mentari sebenarnya bukan bermain dngan awan hitam. Ia berusaha memanaskan awan hitam agar awan hitam meneteskan butiran-butiran halus pembasuh luka. Butiran-butiran halus yang akan memecah cahaya mentari kala senja. Menghasilkan gelombang mejikuhibiniu yang elok, melingkari gubukmu setengah lingkaran dengan warna-warna nan indah.  Apakah kau masih belum menyadarinya?”, rembulan kembai bertanya kepadku. “Ternyata aku telah buta selama ini, dibutakan oleh keegoisan ku sendiri. Aku hanya mementigkan kepeningan ku sendiri, tak peka dengan lingkungan yang membantuku. Aku baru menyadari kalu sang mentari begitu iklas dan tulus, memberikan pelangi saat aku mengasarinya. Sekarang aku sadar, aku lentera bodoh tak bisa membedakan cahaya iklas dan tulus. Hanya melihat yang dihadapan mata, menilai tanpa meggetahui fakta yang sebenarnya. Sebegitu tuluskah sang mentari ingin menjaga gubukku?. tapi aku telah mengasarinya akankah ia memaafkanku?”,  ku kembali bertanya kepada sang rembulan “sebntar lagi subuh akan mejelang, saat adzan mentari akan mulai menampakan cahaynya. Minta maaflah”, kemudian rembulan lenyap bersamaan dengan gema kata terahirnya. “Minta maaflah”, kata ini melekat dikalbuku. Aku lantas menunggu adzan subuh, mennuggu kehadiran sang mentari untuk menyampaikan permintaan maafku. Tak lama berselang, adzan subuh bersenandung namun sang mentari masih belum menampakkan dirinya. Mungkin mentari benar-benar marah dan benci kepadaku. Aku terunduk dn menangis sekeras-kerasnya. Berteriak memintamaaf kepada sang mentari. Tapi siapa yan akn mendengarkanya mentari tak menampakan diri, dia terlalu marah ntuk memaafkan ku. Subuh telah berlalu. Cahaya frontal dari belakang gunung menyilaukan mataku. Membuat tangisanku terenti, perasaan gundah ini tiba-tiba hanyut bersamaan dengan gelapnya subuh yang mulai memudar. Sang mentari menampakkan diriyna dari ufuk bumi bagian timur, sehingga aku dapat mengutarakan permintaan maaf. Kata yang mungkin tidak begitu berarti bagi sang mentari, tapi kata yang harus aku ucapkan untuk menebus semua kesalahhanku. aku kemudian meminta meminta maaf kepada sang mentari tanpaterlalu berharap utuk dimaafkan karena kesalahanku selama ini. Namun aku mendapatkan jawaban yang berbeda, sang mentari tersenyum lembut kepada ku. senyuman memiliki bayak arti, dan aku mengartikan senyuman sang mentari sebagai kata maaf bagi ku. senyuman sang mentari membuat retakan di kacaku seperti disatukan oleh sebuah kekuatan positif. Kilauku kembali utuh, aku dapat bercahaya terang kembali kala malam datang menjelang. Dan semua itu berkat kebaikan sang mentari, sekarang aku dapat menjaga gubukku secara utuh. Aku tidak membutuhkan kilauan lain untuk menghangatkan gubukku. yang aku butuhkan hanya kelembutan kata memaafkan yang iklas. Sekarang tak ingin lagi memaksakan jalan cerita siapa yang akan mendampingi ku menerangi gubuku. Yang sangat penting sekarang adalah bagaimana aku bisa menjelma menjadi sebuah lampu pijar. Agar gubukku mendapatkan kehangatan yang lebih sepanjang pagi, dan malam.  Sekarang kehidupan telah berubah. Aku, obor, dan sang mentari bersinar menerangi impian kami masing-masing. Bersinar menyinari harapan dan pengorbanan dengan rasa sukur dan iklas.

Iklan

Penulis: refiyon yoggy

"Saya ingin menjadi air mengalir yang selalu menemukan jalannya"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s