The Story of Melancholic

Chapter 2

Seorang melankolis biasanya melihat jauh kedalam. Mereka melihat hati dan jiwa kehidupan. Sebab itulah sebagian besar melankolis memiliki kecerdasan intrapersonal. Mereka melihat jauh kedalam diri, mengintrospeksi dan mampu memprediksi posisi mereka dimasa depan. Seorang melankolis memiliki sifat artistik untuk menghargai keindahan dunia. Mereka memiliki bakat, untuk mengisi kesendirian. Mereka diam, namun bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Dalam diamnya  seorang melankolis dapat menghasilkan karya. Pelukis, penulis dan musikus biasanya adalah seorang melankolis yang dilahirkan dengan potensi jenius. Seorang melankolis adalah tipe orang yang serius dan tekun. Mereka menetapkan tujuan jangka panjang dan ingin melakukan apa yang mempunyai tujuan nyata.

Melankolis merupakan karakter yang seringkali terasing dalam lingkungan. Hal ini akan diperparah ketika seorang melankolis dikelilingi oleh lingkungan sanguinis dan koleris. Sikap extrovert sanguinis dan koleris dapat mengintimidasi melankolis dan membuatnya bergeser semakin tersudut. Dalam berteman melankolis lebih mementingkan kualitas dari pada kuantitas.

Dalam beraktifitas, melankolis memposisikan dirinya sebagai bayangan. Mereka mencari cahaya untuk membuat dirinya tetap terlihat. Semakin terang cahaya yang mereka dapatkan semakin gelap bayangan yang dihasilkan, dan kegelapan adalah sinar bagi mereka. Seringkali seorang melankolis menjadi bayangan seorang sanguinis. Sikap optimistik seorang sanguinis dapat menyeimbangkan pesimistik melankolis, dan sebaliknya. Seorang melankolis lebih senang bertepuktangan dipinggir lapangan menyoraki para pahlawan. Mereka lebih suka bekerja dalam diam dan tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Melankolis bukanlah karakter orang yang aneh. Ada kehidupan yang kebanyakan orang tidak tahu, dan hanya seorang melankolis lah yang memahaminya. Ketika sendiri itu sepi bagi kebanyakan orang, namun bagi melankolis itu adalah sebuah pelangi.

Berikut adalah kegiatan yang paling disukai seorang melankolis :

Tidur

tdur

Daripada menghabiskan waktu diluar, seorang melankolis lebih memilih berdiam dirumah. Kamar merupakan istana sakral yang nyaman, dan tempat tidur adalah mahkotnya. Bagi melankolis menghabiskan waktu berhari-hari dikamar bukan merupakan sebuah penyiksaan, namun adalah sebuah anugerah. Tidur sambil membaca, menulis atau menggambar, novel menonton TV  adalah sahabat sejati seorang melankolis.

Membaca Novel

download

Dengan membaca novel seorang melankolis dapat menyaksikan kehidupan lain tanpa harus keluar rumah. Dengan membaca, mereka dapat menikmati perjalanan kehidupan atau emosi saat berinteraksi. bukankah buku adalah jendela dunia?, melihat dunia melalui jendela tanpa harus dikelilingi orang lain adalah gaya hidup yang unik bukan?.

 Menulis atau menggambar

kemampuan_menulis_anak-314x314

Seringkali seorang melankolis memiliki perasaan yang sulit mereka ungkapkan, dan tulisan atau gambar adalah hasil dari ungkapan perasaan mereka.

Menonton TV

images

Seorang melankolis memilih berteman dengan laptop, gadged atau TV. Bagi mereka menghabiskan waktu dengan menonton film jauh lebih menyenangkan, dari pada harus berkomunikasi dengan orang lain. Dikelilingi orang banyak akan memusingkan seorang melankolis.

 

Iklan

The Story of Melancholic

Chapter 1

Akhirnya aku menumbangkan rasa takut seorang melankolis. Membuang rasa khawatir dan keluar dari zona rutinitas yang menyita waktu. Perkelahian panjang dengan fikiran sendiri pun berhasil aku menangkan. Hari ini begitu cerah, aku mulai merangkai kata. Bukan untuk melamar seorang gadis, bukan juga untuk mengikuti kompetisi puisi, namun ini untuk sebuah perubahan.

Aku membuka komputer untuk mencari beberapa referensi. Rasanya begitu berbeda, sticky note yang biasanya tersusun rapi di desktop komputerku, tiba-tiba berantakan sesaat aku menyalakannya. Sebuah sticky note merah muda menyelip di antara toolbar sebelah kanan bawah. Aku menggesernya, terlihat jelas pada toolbar tertulis angka 13/06/2016. Aku bergumam, menantang fikiranku sendiri. “Hari ini atau menyesal seumur hidup”.

Suasana disekeliling seperti biasanya. Canda tawa menyelimuti pagi ini. teman-teman menyapaku sambil memberikan senyuman terbaik. Aku membalasnya dengan senyum simpul dan kembali sibuk dengan komputerku. Suasana berubah menjadi begitu tenang, aku melihat jam pada desktop, pukul 09.30. aku menoleh kebelakang, disana duduk seorang pria berkumis dengan rambut yang sedikit ikal. Aku menghela nafas dalam, fikiranku kembali memberikan keraguan. Membisikan kata-kata yang menakutkan, membuat jantungku berdegub begitu kencang. Aku memejamkan mata, menyandarkan badan dan menghela nafas sedalam-dalam mungkin, mengusir keraguan fikiranku sendiri. “Keputusan ini sudah tidak akan berubah lagi, tidak akan, tidak akan pernah sama sekali”, gumamku menghalau keraguan.

Lanjutkan membaca “The Story of Melancholic”

Sajak Untuk Ayah dan Bunda

Ayah dan Bunda
Terimakasih atas segalanya
Atas semua yang telah engkau berikan
Atas doa mu seusai sholat
Atas kasih sayang mu yang tiada henti
Atas apapun
Aku tak mampu menulisnya satu persatu

Ayah dan Bunda
Bahkan ketika aku telah dewasa
Kau selalu menanyakan kabarku
Kau selalu mengingatkan ku sholat
Kau selalu mengingatkan ku makan
Kau selalu menanyakan bagaimana pekerjaanku

Ayah dan Bunda
Aku tak akan menjadi siapa aku hari ini
Tanpa mu
Saat ini aku sadar, betapa sulitnya mendapatkan sesuatu
Disini……. Dibumi ini……..
Sedang kau membagi semuanya
Tanpa mengharap apa-apa
Untuk kami….. anak-anak mu……
Walau karenanya kau mengubur keinginan mu sendiri Lanjutkan membaca “Sajak Untuk Ayah dan Bunda”

IBUNDA KENAPA ENGKAU MENANGIS?

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya, “Ibu Kenapa Ibu menangis?”

Ibunya menjawab, “sebab ibu adalah seorang wanita nak”

Dan si anak agak sedikit bingung, “ Aku tidak mengerti Ibu”

Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.” Anakku kamu memang tidak akan pernah mengerti”

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya,” Ayah, mengapa Ibu menangis?, sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas”

Sang Ayah menjawab. “ semua wanita memang menangis tanpa alasan” hanya itu jawaban yang bisa diberikan oleh sang Ayah.

Lanjutkan membaca “IBUNDA KENAPA ENGKAU MENANGIS?”

EMAS DAN PERMATA

Suatu ketika seorang pemuda mendatangi seorang guru dan bertanya.
“Guru,, saya tidak mengerti mengapa orang seperti anda berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah pada zaman sekarang ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu? Bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan.”
Sang guru hanya tersenyum dan melepaskan cincin pada salah satu jarinya dan berkata “anak muda, akan aku jawab pertanyaan mu, tetapi terlebih dahulu lakukan satu hal untuk ku. ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana, bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas.”
Melihat cincin gurunya yang kotor itu pemuda tadi menjadi ragu, “satu keping emas?, saya tidak yakin guru, saya tidak yakin cincin ini dapat dijual seharga itu.”

Lanjutkan membaca “EMAS DAN PERMATA”

Koleris Akut yang Kumat

Si Koleris Akut Kumat Lagi…
Sungguh menjadi seorang karyawan itu butuh kedewasaan, baik dalam menyikapi atasan maupun menghadapi rekan kerja. Disini yang jadi masalah terbesar adalah mayoritas sikap Koleris dan Sanguinis yang mengintimidasi seorang melankolis. Lanjutkan membaca “Koleris Akut yang Kumat”

BAB I HIJAB

Seperti biasanya terlalu cepat tiga puluh menit sebelum ujian dimulai. Kebiasaan yang sulit ditinggalkan, walau sering dihianati oleh jam karet Indonesia, namun aku selalu tiba tiga puluh menit lebih awal. Aku menoleh meilhat seisi ruangan, senyap dan sepi. tidak terlihat  teman-teman sekelasku. Hanya beberapa ransel diatas meja dan kertas yang bertuliskan nama-nama. Aku meletakan tas dipinggir bangku, mulai mengeluarkan perlengkapan tulis dan beberapa buku. Dari sini white board terlihat begitu dekat, juga meja pengawas yang hanya dipisahkan satu ubin keramik. Meja disebelah kiri dan belakang ku juga belum bertuliskan nama, artinya belum berrpenghuni dan disisakan untuk orang-orang katanya apes dan telat booking. Aku cukup heran saat ujian masih banyak calo-calo yang bersedia membooking tempat tanpa dibayar. Mungkin dari sinilah calo-calo di terminal dan stasiun berasal, atau mungkin juga calo kelurahan, camat atau kantor bupati. Entahlah, fikiranku mulai mengajakku bercengkrama.

Lanjutkan membaca “BAB I HIJAB”